KOTA SUNGAI PENUH MEMANAS

Infokerinci.co.vu - SUNGAIPENUH (18/5), Situasi politik saat ini yang terus memanas, dan diperkirakan pertarungan demi menduduki kursi Wali Kota Sungai Penuh itu bakal menjadi sejarah dengan biaya cukup mahal disamping menguras energi besar jika betul – betul ingin menang.
                 
Pengamatan Politik Yul Catra, kepada Infokerinci.co.vu mengatakan, pertarungan Pilkada Kota Sungai Penuh kali ini tidak sekedar mempertahankan atau mengejar kursi BH I Kota Sungai Penuh, tetapi disini tampaknya bakal semakin sengit karena munculnya nuansa politik “harga diri kedaerahan” yang mesti dijawab dengan suatu kemenangan.
          
Sebenarnya, kata Yul Catra, Pilkada Kota Sungai Penuh merupakan pertarungan harga mati antara calon incumbent Asafri Jaya Bakri (AJB) yang dipastikan bakal diusung Partai Demokrat, sedangkan Kandidat lainya begitu banyak bermunculan mengatakan siap dan berani untuk maju Mencalonkan diri menjadi Wali Kota Sungai Penuh.

sementara itu menurut Yul Catra Banyaknya Calon Walikota Sungai Penuh yang bermunculan itu secara logika kita melihat itu semua tergantung pada Kepuasan Publik terhadap  incumbent, "semakin Puas masyarakat terhadap Pelayanan Publik maka semakin sedikit yang akan bermunculan untuk menyatakan maju menjadi Lawan Politik dari  incumbent tersebut, dan sebaliknya kita lihat yang bermunculan saat ini karena ketidak puasan publik terhadap incumbent" Pungkasnya. (Rey-01)
MAS yang dibangun HBA selama ini.
 
“Aksi penyelamatan jabatan dengan perhitungan politik bakal terjadi dilingkungan pejabat, tidak saja sekedar bermain dua kaki tetapi juga kemungkinan akan lompat pagar seca
- See more at: http://www.pelitaonline.com/news/2015/02/22/suhu-politik-jambi-panas-hba-rawan-ditinggalkan-pasca-peletakan-jabatan/#sthash.lj3Qs6BX.dpuf
Situasi politik saat ini terus memanas, dan diprakirakan pertarungan demi menduduki kursi Gubernur Jambi itu bakal menjadi sejarah dengan biaya cukup mahal disamping menguras energi besar jika betul – betul ingin menang.
          
Sederet nama, seperti Zumi Zola Zulkifli yang saat ini menjabat Bupati Tanjung Jabung Timur dipastikan bakal menjadi pesaing berat calon incumbent Hasan Basri Agus, dibanding kandidat lain, seperti Ir Nino Guritno (mantan Kadis PU Jambi yang juga Ketua Umum Paguyuban Jawa – Jambi), Sukandar S.Kom (Bupati Tebo), Cek Endra (Bupati Sarolangun), dan masih terdapat sejumlah nama lain.
          
Pengamatn Politik Nasroel Yasier, kepada Pelita Minggu (22/2) mengatakan, pertarungan Pilkada Jambi kali ini tidak sekedar mempertahankan atau mengejar kursi BH I Jambi, tetapi disini tampaknya bakal semakin sengit karena munculnya nuansa politik “harga diri” yang mesti dijawab dengan suatu kemenangan.
          
Sebenarnya, kata Nasroel, Pilkada Jambi merupakan pertarungan harga mati antara calon incumbent Hasan Basri Agus (HBA) yang dipastikan bakal diusung Partai Demokrat, sedangkan  Zumi Zola Zulkifli yang merupakan anak mantan Gubernur Jambi dua periode Zulkifli Nurdin  bakal diusung Partai Amanat Nasional (PAN).
 
“Situasi politik bakal seru dan panas, terlebih lagi sebelumnya sempat terjadi hubungan yang tidak harmonis antara Zulkifli Nurdin dengan HBA terkait Pulau Berhala yang dianggap tak mampu dipertahankan HBA sehingga lepas ke Provinsi Kepulauan Riau (Kepri),” terangnya.
 
Menurut Nasroel, pasca peletakan jabatan Gubernur Jambi tentu menimbulkan situasi politik yang tidak menguntungkan bagi HBA karena tidak lagi memiliki kuasaan dengan waktu yang tidak sebentar.
 
“Tanpa jabatan dan kekuasaan, HBA bakal menghadapi masa sulit untuk dapat bisa mempertahankan kekuatan pendukungnya yang telah mengantarkannya sebagai Gubernur Jambi lima tahun sebelumnya. Potensi lompat pagar yang dilakukan oleh tim nya bakal mungkin terjadi jika dianggap Zumi Zola Zulkifli unggul dalam perhitungan survey,” kata Nasroel.
 
Dan tidak itu saja, Nasroel juga memprediksikan, pasca peletakan jabatan sebagai Gubernur Jambi Hasan Basri Agus nanti, gelombang penghianatan bakal menjadi nuansa tersendiri dalam situasi politik yang dihadapi calon incumbent itu, termasuk kemungkinan hal itu akan terjadi dilingkungan pejabat di kabinet Jambi EMAS yang dibangun HBA selama ini.
 
“Aksi penyelamatan jabatan dengan perhitungan politik bakal terjadi dilingkungan pejabat, tidak saja sekedar bermain dua kaki tetapi juga kemungkinan akan lompat pagar secara terang – terangan mendukung kandidat yang dianggap bakal unggul,” ujarnya.
 
Selain itu, Nasroal juga menguraikan, kemungkinan lain tentunya bukan tidak mungkin akan timbul persoalan hukum dalam kebijakan yang dilakukan Gubernur Jambi Hasan Basri Agus selama kepemimpinannya.
 
“Gerilya politik untuk tujuan memenangkan tujuan politik pesoalan hukum kerap didongkel – dongkel seperti yang sering terjadi,” paparnya.
 
Itulah sebabnya, dikatakan Nasroel, HBA sebagai calon incumbent harus memiliki strategis politik yang bisa menekan situasi seperti itu, termasuk menunjukan kepiawaiannya membangun kekuatan bersama lawan politiknya yang bisa dirangkulnya tentu dengan pola menunggu dipersimpangan. | POL
- See more at: http://www.pelitaonline.com/news/2015/02/22/suhu-politik-jambi-panas-hba-rawan-ditinggalkan-pasca-peletakan-jabatan/#sthash.lj3Qs6BX.dpuf
Situasi politik saat ini terus memanas, dan diprakirakan pertarungan demi menduduki kursi Gubernur Jambi itu bakal menjadi sejarah dengan biaya cukup mahal disamping menguras energi besar jika betul – betul ingin menang.
          
Sederet nama, seperti Zumi Zola Zulkifli yang saat ini menjabat Bupati Tanjung Jabung Timur dipastikan bakal menjadi pesaing berat calon incumbent Hasan Basri Agus, dibanding kandidat lain, seperti Ir Nino Guritno (mantan Kadis PU Jambi yang juga Ketua Umum Paguyuban Jawa – Jambi), Sukandar S.Kom (Bupati Tebo), Cek Endra (Bupati Sarolangun), dan masih terdapat sejumlah nama lain.
          
Pengamatn Politik Nasroel Yasier, kepada Pelita Minggu (22/2) mengatakan, pertarungan Pilkada Jambi kali ini tidak sekedar mempertahankan atau mengejar kursi BH I Jambi, tetapi disini tampaknya bakal semakin sengit karena munculnya nuansa politik “harga diri” yang mesti dijawab dengan suatu kemenangan.
          
Sebenarnya, kata Nasroel, Pilkada Jambi merupakan pertarungan harga mati antara calon incumbent Hasan Basri Agus (HBA) yang dipastikan bakal diusung Partai Demokrat, sedangkan  Zumi Zola Zulkifli yang merupakan anak mantan Gubernur Jambi dua periode Zulkifli Nurdin  bakal diusung Partai Amanat Nasional (PAN).
 
“Situasi politik bakal seru dan panas, terlebih lagi sebelumnya sempat terjadi hubungan yang tidak harmonis antara Zulkifli Nurdin dengan HBA terkait Pulau Berhala yang dianggap tak mampu dipertahankan HBA sehingga lepas ke Provinsi Kepulauan Riau (Kepri),” terangnya.
 
Menurut Nasroel, pasca peletakan jabatan Gubernur Jambi tentu menimbulkan situasi politik yang tidak menguntungkan bagi HBA karena tidak lagi memiliki kuasaan dengan waktu yang tidak sebentar.
 
“Tanpa jabatan dan kekuasaan, HBA bakal menghadapi masa sulit untuk dapat bisa mempertahankan kekuatan pendukungnya yang telah mengantarkannya sebagai Gubernur Jambi lima tahun sebelumnya. Potensi lompat pagar yang dilakukan oleh tim nya bakal mungkin terjadi jika dianggap Zumi Zola Zulkifli unggul dalam perhitungan survey,” kata Nasroel.
 
Dan tidak itu saja, Nasroel juga memprediksikan, pasca peletakan jabatan sebagai Gubernur Jambi Hasan Basri Agus nanti, gelombang penghianatan bakal menjadi nuansa tersendiri dalam situasi politik yang dihadapi calon incumbent itu, termasuk kemungkinan hal itu akan terjadi dilingkungan pejabat di kabinet Jambi EMAS yang dibangun HBA selama ini.
 
“Aksi penyelamatan jabatan dengan perhitungan politik bakal terjadi dilingkungan pejabat, tidak saja sekedar bermain dua kaki tetapi juga kemungkinan akan lompat pagar secara terang – terangan mendukung kandidat yang dianggap bakal unggul,” ujarnya.
 
Selain itu, Nasroal juga menguraikan, kemungkinan lain tentunya bukan tidak mungkin akan timbul persoalan hukum dalam kebijakan yang dilakukan Gubernur Jambi Hasan Basri Agus selama kepemimpinannya.
 
“Gerilya politik untuk tujuan memenangkan tujuan politik pesoalan hukum kerap didongkel – dongkel seperti yang sering terjadi,” paparnya.
 
Itulah sebabnya, dikatakan Nasroel, HBA sebagai calon incumbent harus memiliki strategis politik yang bisa menekan situasi seperti itu, termasuk menunjukan kepiawaiannya membangun kekuatan bersama lawan politiknya yang bisa dirangkulnya tentu dengan pola menunggu dipersimpangan. | POL
- See more at: http://www.pelitaonline.com/news/2015/02/22/suhu-politik-jambi-panas-hba-rawan-ditinggalkan-pasca-peletakan-jabatan/#sthash.lj3Qs6BX.dpuf
Situasi politik saat ini terus memanas, dan diprakirakan pertarungan demi menduduki kursi Gubernur Jambi itu bakal menjadi sejarah dengan biaya cukup mahal disamping menguras energi besar jika betul – betul ingin menang.
          
Sederet nama, seperti Zumi Zola Zulkifli yang saat ini menjabat Bupati Tanjung Jabung Timur dipastikan bakal menjadi pesaing berat calon incumbent Hasan Basri Agus, dibanding kandidat lain, seperti Ir Nino Guritno (mantan Kadis PU Jambi yang juga Ketua Umum Paguyuban Jawa – Jambi), Sukandar S.Kom (Bupati Tebo), Cek Endra (Bupati Sarolangun), dan masih terdapat sejumlah nama lain.
          
Pengamatn Politik Nasroel Yasier, kepada Pelita Minggu (22/2) mengatakan, pertarungan Pilkada Jambi kali ini tidak sekedar mempertahankan atau mengejar kursi BH I Jambi, tetapi disini tampaknya bakal semakin sengit karena munculnya nuansa politik “harga diri” yang mesti dijawab dengan suatu kemenangan.
          
Sebenarnya, kata Nasroel, Pilkada Jambi merupakan pertarungan harga mati antara calon incumbent Hasan Basri Agus (HBA) yang dipastikan bakal diusung Partai Demokrat, sedangkan  Zumi Zola Zulkifli yang merupakan anak mantan Gubernur Jambi dua periode Zulkifli Nurdin  bakal diusung Partai Amanat Nasional (PAN).
 
“Situasi politik bakal seru dan panas, terlebih lagi sebelumnya sempat terjadi hubungan yang tidak harmonis antara Zulkifli Nurdin dengan HBA terkait Pulau Berhala yang dianggap tak mampu dipertahankan HBA sehingga lepas ke Provinsi Kepulauan Riau (Kepri),” terangnya.
 
Menurut Nasroel, pasca peletakan jabatan Gubernur Jambi tentu menimbulkan situasi politik yang tidak menguntungkan bagi HBA karena tidak lagi memiliki kuasaan dengan waktu yang tidak sebentar.
 
“Tanpa jabatan dan kekuasaan, HBA bakal menghadapi masa sulit untuk dapat bisa mempertahankan kekuatan pendukungnya yang telah mengantarkannya sebagai Gubernur Jambi lima tahun sebelumnya. Potensi lompat pagar yang dilakukan oleh tim nya bakal mungkin terjadi jika dianggap Zumi Zola Zulkifli unggul dalam perhitungan survey,” kata Nasroel.
 
Dan tidak itu saja, Nasroel juga memprediksikan, pasca peletakan jabatan sebagai Gubernur Jambi Hasan Basri Agus nanti, gelombang penghianatan bakal menjadi nuansa tersendiri dalam situasi politik yang dihadapi calon incumbent itu, termasuk kemungkinan hal itu akan terjadi dilingkungan pejabat di kabinet Jambi EMAS yang dibangun HBA selama ini.
 
“Aksi penyelamatan jabatan dengan perhitungan politik bakal terjadi dilingkungan pejabat, tidak saja sekedar bermain dua kaki tetapi juga kemungkinan akan lompat pagar secara terang – terangan mendukung kandidat yang dianggap bakal unggul,” ujarnya.
 
Selain itu, Nasroal juga menguraikan, kemungkinan lain tentunya bukan tidak mungkin akan timbul persoalan hukum dalam kebijakan yang dilakukan Gubernur Jambi Hasan Basri Agus selama kepemimpinannya.
 
“Gerilya politik untuk tujuan memenangkan tujuan politik pesoalan hukum kerap didongkel – dongkel seperti yang sering terjadi,” paparnya.
 
Itulah sebabnya, dikatakan Nasroel, HBA sebagai calon incumbent harus memiliki strategis politik yang bisa menekan situasi seperti itu, termasuk menunjukan kepiawaiannya membangun kekuatan bersama lawan politiknya yang bisa dirangkulnya tentu dengan pola menunggu dipersimpangan. | POL
- See more at: http://www.pelitaonline.com/news/2015/02/22/suhu-politik-jambi-panas-hba-rawan-ditinggalkan-pasca-peletakan-jabatan/#sthash.lj3Qs6BX.dpuf
Share on Google Plus

About Unknown

Media Online Resmi yang diterbitkan oleh PT. Media Geger Nusantara

0 Comments:

Posting Komentar