Infokerinci.com, Sungaipenuh. Terkait status darurat sampah yang dilekatkan pada Kota Sungaipenuh menyebabkan keresahan pada seluruh masyarakat Kota Sungaipenuh. Strategi-strategi yang dimiliki pemerintah Kota Sungaipenuh untuk menangani sampah nampaknya tidak ampuh. Pasalnya setiap langkah yang dilakukan menuai konflik antara pemerintah dengan masyarakat. Seperti TPST di Kilometer 14 mendapat hambatan dari pemuda Belui dan masyarakat se Kecamatan Depati Tujuh. Sedangkan TPA di Renah Kayu Embun mendapat penolakan dari masyarakat se Kecamatan Kumun Debai.
Melihat fenomena ini infokerinci.com tertarik untuk menyampaikan kepada publik hasil diskusi dengan tokoh muda yang memiliki jutaan pengalaman dibanyak bidang.
Nuzran Joher menyarankan kepada
Pemerintah kota Sungaipenuh untuk kunjungan kerja dan belajar sistempengolahan sampah di
Tangsel atau di UIN
Jakarta. Dimana disana memiki mobil yang mampu untuk memisahkan sampah kering dan sampah basah dan juga memiliki tekhnologi daur ulang
Langsung ditempat. Sehingga tidak perlu lagi ada
TPA dan perselisihan antara masyarakat dengan pemerintah persoalan sampah.
Nuzran menyampaikan ide ini bukan karena siapa pemerintah yang memerintah tapi karena hak dan kenyamanan rakyat harus diutamakan.


0 Comments:
Posting Komentar