“I will prepare and someday my chance will come.”
(saya akan melakukan persiapan dan suatu hari nanti kesempatan saya
akan datang). Demikian kata Presiden Amerika Serikat ke-19, Abraham
Lincoln (1809-1865). Ya, Nuzran Joher telah melakukan hal yang sama
dengan apa yang dilakukan Lincoln. Nuzran—disadari atau pun mungkin juga
tanpa disadarinya—telah mempersiapkan diri dalam waktu yang relatif
panjang untuk menjadi seorang pemimpin (leader). Nuzran remaja
hidup di ujung rezim Orde Baru yang otoriter, kaku, dan cenderung pada
hal-hal yang serba simbolis-formalistik yang ekstrem.
Tapi minat Nuzran lain: tak peduli ia dengan trend rekan-rekan
seusianya yang berlomba-lomba ingin jadi PNS pada era 90-an. Mungkin
karena ia berkelindan dengan dunia pergerakan, aktivis, dan idealisme,
ia cuekkan keinginan untuk sekedar gagah-gagahan pakai seragam dinas.
Nuzran justru menenggelamkan diri dalam aktivitas-aktivitas organisasi
kemahasiswaan yang ia yakini mampu membuatnya besar dan berbeda dari
rekan-rekannya kelak: menjadi tokoh dan pemimpin sosial.
Bertahun-tahun ia digembleng dan tergembleng di organisasi
perkaderanHimpunan Mahasiswa Islam (HMI), Nuzran tumbuh dengan karakter
kepemimpinan yang nasionalis. HMI—sebagai sebuah organisasi
kemahasiswaan yang telah banyak melahirkan tokoh dan pemimpin-pemimpin
cemerlang bangsa ini—adalah organisasi yang dipilihnya ketika menjadi
mahasiswa di Kota Padang, Sumatera Barat. Karena kecintaannya pada
kemanusiaan (humanity), kebebasan (emancipation), dan kemerdekaan intelektual (intellectual freedom), ia memilih jalan hidup sebagai aktivis mahasiswa.
Ia cuekkan apa yang menjadi momok oleh teman-teman kuliahnya di masa
Orde Baru dulu, yang apatis dengan organisasi: ancaman DO (drop out).
Tapi, tak sia-sia. Nuzran terbukti di kemudian hari, telah menikmati
hasil itu: karakter kepemimpinan (leadership) justru banyak ia dapatkan
dalam dunia organisasi, bukan di kampus formal. Namun, ia tetap bisa
merampungkan kuliah dan berhasil mendapat gelar sarjana. Tak hanya
sukses organisasi, ia juga sukses secara akademis. Kedua hal itu telah
membentuk dan memperkuat talenta kepemimpinan yang ada dalam dirinya.
Bukti keuletan dan talenta kepemimpinannya: ia berhasil menjadi
Sekretaris Jenderal Himpunan Mahasiswa Islam (PB HMI) di Jakarta.
Sesuatu yang tidak mudah dicapai oleh banyak aktivis dari berbagai
daerah di Indonesia.
Figur bersih
Terlahir dari keluarga sederhana, di Rawang, Kerinci, 42 tahun silam,
tepatnya 28 Oktober 1973, Nuzran—meminjam istilah wartawan senior
Rosihan Anwar dalam salah satu tulisannya di Kompas—adalah sosok
“anak kampung tinggi melambung”. Sejak kecil, menurut pengakuannya, ia
memang sudah tertarik dengan dunia politik dan kepemimpinan. Ia kerap
dibawa mengikuti kegiatan-kegiatan politik dan sosial. Bakat
kepemimpinannya terus ia asah, mulai dari organisasi-organisasi sosial
dan kepemudaan di kampung sampai menduduki bangku kuliah di perguruan
tinggi. Organisasi adalah bagian dari hidupnya.
Karena organisasi juga, Nuzran telah mengembara ke berbagai tempat di
Tanah Air. Jiwa nasionalismenya tumbuh. Idealismenya kokoh. Tidak
seperti pada umumnya pemuda-pemuda di kampungnya yang enggan
meninggalkan tanah kelahiran, Nuzran justru memilih hijrah ke luar
daerah. Namun, semua itu tidaklah membuatnya angkuh dan melupakan
kampung halaman. Ia tetap ingat akan masyarakat daerahnya—Kerinci dan
Kota Sungai Penuh—yang saat ini sangat banyak yang masih hidup dalam
kemiskinan, ketidakadilan, dan keterbelakangan.
Mungkin, bagi Nuzran, berlaku nasihat dari Imam Syafi’i kepada para
pencari untuk berani melakukan pengembaraan intelektual: ”Berangkatlah,
niscaya engkau akan mendapatkan ganti untuk semua yang engkau
tinggalkan. Bersusah payahlah sebab kenikmatan hidup direngkuh dalam
kerja keras. Ketika air mengalir, ia akan menjadi jernih dan ketika
berhenti ia akan menjadi keruh. Sebagaimana anak panah, jika tidak
meninggalkan busurnya tak akan mengenai sasaran. Biji emas yang belum
diolah sama dengan debu di tempatnya.”
Ya, benar nasihat Imam Syafi’i. Pada 2004, di usianya yang relatif
muda, ia diberi amanah oleh masyarakat sebagai Senator: menjadi anggota
Dewan Perwakilan Daerah (DPD RI) mewakili Provinsi Jambi. Ia memperoleh
suara terbanyak ketika itu dan muncul sebagai tokoh muda di pentas
politik nasional—mengalahkan pesaing-pesaingnya yang berasal dari
berbagai latar belakang. Di DPD, ia dipercaya sebagai Ketua PAH (Panitia
Ad Hoc) III DPD RI pada 2006-2007. Ia juga pernah duduk sebagai anggota
PAH I yang membidangi urusan hukum dan otonomi daerah.
Tidak hanya itu, ia juga punya segudang pengalaman internasional ke
berbagai negara-negara di dunia seperti Jepang, Finlandia, Kuba,
Norwegia, Polandia, Jerman, dan lainnya. Sepanjang karirnya, ia
tergolong figur yang bersih. Tidak ada catatan hitam. Tidak pernah ia
tersandung persoalan-persoalan korupsi, gratifikasi, asusila, dan
perilaku bejat lainnya. Selama menjadi anggota DPD RI, ia bekerja jujur
untuk masyarakat Jambi. Terkadang ia bekerja dalam sunyi dan luput dari
sorotan media. Namun, ia tetap bekerja, walaupun kadang difitnah dan
diumpat di sana-sini. Tapi, ia tak pernah merisaukannya. Itulah sebuah
karakter kepemimpinan yang kuat.
Bukti lain dari kecintaannya untuk membangun negeri: pada 2008, ia
pernah mencalonkan diri untuk menjadi Bupati Kerinci, walaupun pada
akhirnya gagal. Tapi, Emil Peria—yang juga aktivis pergerakan dan tokoh
politik muda Kerinci—pernah mengatakan yang intinya: tidaklah menjadi
soal Nuzran kalah dalam kompetisi di Pilkada Kerinci. Yang penting itu:
kita telah mencoba mendobrak status quo (kemapanan) dan kebekuan
demokrasi yang selama ini dianggap hanya monopoli dan dominasi “kaum
tua”, dan golongan elit.
Harapan perubahan
Kini, Buya Ran—sapaan akrab Nuzran Joher—kembali dilirik oleh banyak
kalangan tokoh-tokoh dan kelompok-kelompok pro perubahan yang anti
status quo di Kota Sungai Penuh. Ia mulai digadang-gadang dan
disebut-sebut sebagai tokoh muda yang akan muncul dan mampu melakukan
perubahan-perubahan besar untuk Kota Sungai Penuh ke arah yang lebih
baik, menggantikan rezim Asafri Jaya Bakri (AJB) yang telah bertahta
selama 5 tahun. Dalam pandangan banyak pengamat, AJB dinilai belum mampu
memberikan kemajuan yang berarti bagi masyarakat dan Kota Sungai Penuh
pasca dimekarkan dari Kabupaten Kerinci 7 tahun silam. Belum terlihat
terobosan-terobosan besar dan signifikan yang telah dilakukan selama 5
tahun kepemimpinan AJB.
Wajah Kota Sungai Penuh, secara kasat mata, masih relatif sama dengan
sebelum menjadi kota otonom. Oleh karena itu, masyarakat butuh perubahan
besar dan berarti. Tidak hanya dalam hal pembangunan fisik, sarana dan
prasarana, tetapi juga dalam bidang manajemen birokrasi pemerintahan.
Masyarakat Kota Sungai Penuh menginginkan adanya peningkatan perbaikan
tata kelola pemerintahan yang baik dan bersih (clean and good governance), termasuk dalam hal rekrutmen CPNS dan penempatan orang untuk jabatan tertentu sesuai dengan keahliannya (the right man on the right place).
Meminjam istilah Mao Tse Tung (Presiden Republik Rakyat Tiongkok
pertama): harus ada “lompatan-lompatan besar” kedepan agar Sungai Penuh
bisa “disulap” menjadi kota maju dan modern seperti layaknya kota-kota
otonom di banyak provinsi di Indonesia.
Masyarakat butuh walikota dengan gaya kepemimpinan yang energik,
dinamis, visioner, terbuka, tidak bergaya birokrat yang kaku, dan tidak
terlalu formalistik dan feodal; dan yang tidak kalah penting: memiliki
jiwa “pendobrak” kebekuan dan anti kemapanan. Tipe itu, dalam pandangan
banyak kalangan saat ini, ada pada sosok Nuzran Joher yang berlatar
belakang aktivis mahasiswa. Karakter aktivis sejati tidak terlalu suka
dengan simbol dan gaya formalistik yang kaku dan bersifat lip service
belaka. Oleh karenanya, tidaklah salah jika banyak kalangan
masyarakat—mulai dari pedagang kaki lima, tukang ojek, sopir angkot,
pedagang pasar, buruh, petani, PNS, pemuda, yang merindukan perubahan (change)
ke arah yang lebih baik—menaruh harapan besar pada Nuzran Joher untuk
memimpin Kota Sungai Penuh kedepan. Mungkinkah Nuzran Joher memenuhi
harapan itu?
RAUSHAN FIKRI
Aktivis dan Pegiat Anti Korupsi

0 Comments:
Posting Komentar