InfoKerinci.co.vu - Kiamat sudah dekat, kata judul sebuah sinetron
di salah satu stasiun televisi. Namun sesungguhnya tak ada satu manusia
pun dimuka bumi ini yang tahu persis kapan Hari Kiamat akan tiba. Bahkan
seorang nabi sekalipun tidak tahu kapan akhir dunia itu akan terjadi.
Meski begitu, sejumlah teks kitab suci menyebutkan sejumlah pertanda
kapan kiamat akan terjadi. Sebagian orang yang meyakini kitab suci hanya
bisa mengimani kabar dari wahyu Tuhan yang diturunkan kepada nabi itu.
Sejumlah ilmuwan selama ini berusaha memprediksi kapan kiamat akan
terjadi. Beberapa aliran kepercayaan dari sejumlah kelompok manusia di
berbagai belahan dunia juga memprediksi kapan kiamat akan datang.
Suku Maya di Amerika Latin bahkan pernah memperkirakan kiamat terjadi
pada 2012. Kabar menghebohkan itu bahkan sampai dibuat menjadi film.
Tetapi sejumlah kejadian atau fenomena di muka bumi dipercaya orang
sebagai tanda bumi akan kiamat. Apa saja tanda-tanda itu? Simak
ulasannya berikut ini.
1.
Misteri gerhana bulan darah ketiga di malam Paskah
InfoKerinci.co.vu - Sebuah kejadian antariksa langka akan segera terlihat dari bumi, yakni gerhana bulan darah atau Blood Moon. Menariknya, gerhana bulan itu muncul saat hari Paskah, sesuai dengan prediksi Alkitab.
Dikutip dari Daily Mail (01/04), di Alkitab versi Raja James
(Yoel 2:31), tertulis "Matahari akan berubah menjadi gelap gulita dan
bulan menjadi darah sebelum datangnya hari Tuhan yang hebat dan dahsyat
itu". Nah, beranjak dari hal itu lah seorang Pastur dari Amerika, John
Hagee, menyatakan bila hal besar akan terjadi pada umat manusia.
Berdasarkan buku berjudul 'Four Blood Moons' karya Hagee, gerhana
bulan berdarah yang akan terjadi pada hari Paskah nanti adalah tanda
kejadian besar terjadi di Timur Tengah yang berhubungan dengan Israel.
"Aku percaya kita akan melihat sesuatu yang dramatis terjadi di Timur
Tengah yang menyangkut Israel. Dan hal itu akan berdampak besar bagi
seluruh dunia," ujar Pastur Amerika itu.
Entah kebetulan atau tidak, gerhana bulan darah yang akan terjadi di
hari Minggu nanti adalah gerhana bulan darah ketiga dalam rentetan empat
gerhana bulan darah (tetrad blood moons) dalam kurun waktu tua tahun ini. Oleh sebab itu, banyak pihak yang percaya bila gerhana tersebut sarat akan nuansa religius.
Sebelumnya, gerhana bulan darah pertama dan kedua sudah terjadi di
tahun 2014. Dan setelah gerhana bulan darah ketiga di malam Paskah
nanti, akan ada gerhana bulan darah lagi yang diprediksi terjadi tanggal
28 September 2015.
Menanggapi kemunculan empat gerhana bulan darah dalam dua tahun
secara beruntun, Pastur Hagee berpendapat bila ini adalah tanda 'akhir
zaman'.
"Alkitab menyatakan 'bila kita melihat tanda-tanda itu', dan empat
gerhana bulan darah adalah pertanda yang jelas dari akhir era ini," ujar
Hagee.
Di sisi lain, badan antariksa NASA mengatakan bila gerhana bulan
darah Paskah adalah sesuatu yang alami dan tidak berbahaya atau
berdampak besar bagi manusia.
"Saat gerhana terjadi, bulan sering terlihat berwarna kemerah-merahan
karena sinar matahari yang menimpanya melewati atmosfer bumi. Ketika
itu, spektrum warna biru di cahaya matahari tersaring, sehingga yang
tersisa hanya warna merah saja. Namun, fenomena ini tidak berbahaya bagi
manusia," ungkap NASA.
Menurut Space.com, gerhana bulan darah ini akan terjadi
tanggal 4 April mendatang dan bisa dilihat di Amerika Utara, Asia, dan
Australia. Di kawasan Asia Tengara sendiri, gerhana bulan darah akan
terjadi pada pukul 18.45 WIB selama kurang lebih 12 menit.
2.
Hujan komet jadi awal kiamat bumi?
InfoKerinci.co.vu - Tidak ada seorang manusia pun yang bisa
memprediksi terjadinya kiamat di muka bumi, namun permulaan dari
kehancuran bumi sudah berhasil diprediksi oleh ilmuwan. Semua akan
berawal dari mendekatnya sebuah bintang ke bumi.
Ya, menurut Dr Coryn Bailer-Jones dari Institut Max Planck di Jerman,
terdapat kemungkinan hingga 90 persen sebuah bintang bernama Hip 85605
akan berada di posisi terdekat dengan tata surya kita. Hal itulah yang
akan memicu terjadinya kiamat di bumi.
Hip 85605 diperhitungkan akan melintas di sekitar planet Neptunus.
Meskipun bintang tersebut berukuran lebih kecil dari matahari, tetapi
gaya dorongnya mampu melontarkan triliunan komet yang ada di sekitar
planet Neptunus.
"Bintang yang akan melintas mendekati matahari kita dapat merusak
kestabilan 'awan Oort' (lokasi berkumpulnya komet di luar orbit
Neptunus) dan melontarkan komet-komet ke bagian dalam tata surya.
Peluang hujan komet itu bertabrakan dengan bumi pun sangat besar," ujar
Dr Bailer-Jones di laporannya, Daily Mail (18/12/2014).
Walaupun terdapat kemungkinan kesalahan perhitungan tentang lintasan
bintang Hip 85605, ternyata masih ada ancaman lain dari bintang kerdil
'GL 710' yang juga mempunyai peluang 90 persen mendekati tata surya.
Apabila salah satu dari bintang tersebut mendekati tata surya kita,
jumlah rata-rata komet yang melintas di dekat bumi bisa meningkat pesat
menjadi ratusan dalam sekejap. Ini tentu meningkatkan resiko tabrakan
yang berujung pada berakhirnya kehidupan umat manusia.
Namun jangan terburu-buru khawatir dulu, sebab bintang Hip 85605
diperkirakan baru mendekati bumi dalam kurun waktu 240.000-470.000 tahun
lagi. Sementara GL 710 baru akan sampai di dekat Neptunus 1,3 juta
tahun lagi.
Pertanyaannya, apakah manusia masih sanggup bertahan hidup saat kedua bintang itu mendekati bumi?
3.
Muncul ombak darah di pantai selatan China
InfoKerinci.co.vu - Kejadian ini aneh tapi nyata, munculnya
di Kota Shenzhen, Provinsi Guangzhou, sebelah selatan China. Warga dan
pengunjung pantai Shenzhen kaget karena Selasa (25/11/2014) pagi, muncul
ombak warna merah darah seperti dilansir stasiun televisi CCTV News.
Awalnya warga menduga ada ikan yang dimangsa hiu. Tapi dugaan ini
mentah, karena sama sekali tidak ada bau amis darah. Sebagian bahkan
menyinggung soal ramalan dalam Injil, yang menandakan kiamat akan tiba
ketika laut berwarna merah.
Setelah Dinas Kelautan setempat memeriksa, rupanya ombak warna darah
itu disebabkan oleh membiaknya populasi ganggang merah. Tumbuhan laut
itu punya nama latin noctiluca scintillans.
Kepala Dinas Kelautan Shenzhen Zhou Kai menyatakan ganggang ini
seharusnya tidak beracun. Namun air laut yang diperiksa masih terus
diperiksa.
"Jadi kami menyarankan warga dan wisatawan tidak bersinggungan dengan air laut terlebih dulu," kata Kai.
Pemerintah setempat menilai fenomena ini jarang, tapi sangat mungkin
terjadi. Kai menilai tidak perlu mengaitkan ombak warna darah dengan
takhayul macam-macam.
"Populasi ganggang itu disebabkan perubahan metereologis dan hidrologis di kawasan sekitar," ujarnya.
4.
Jelaskan suara Sangkakala, NASA sebut bumi bernyanyi tiap hari
InfoKerinci.co.vu - Badan Antariksa Amerika Serikat (NASA)
mengaku punya jawaban atas fenomena suara-suara dari langit yang banyak
didengar orang di seluruh dunia sejak 2011. Menurut lembaga ilmiah ini,
suara yang muncul dari langit itu berada dalam frekuensi infrasonik.
Dalam situasi normal, manusia tidak bisa mendengarnya.
Sumber bebunyian tersebut dari gesekan lempeng bumi maupun medan
magnetik di atmosfer, termasuk ketika muncul aurora di dekat kutub.
Suara-suara itu sebetulnya terus 'dinyanyikan' oleh Planet Bumi setiap
saat.
"Seandainya manusia punya antena, alih-alih kuping, maka mereka bisa
mendengar gelombang radio bumi itu," tulis pernyataan pers NASA seperti
dilansir WND.com, Selasa (26/5).
Dalam kesempatan terpisah, Geolog David Deming dari Universitas
Oklahoma, Amerika Serikat, menyatakan fenomena munculnya suara-suara
dari langit itu nyata. Dia masih belum bisa menentukan penjelasan paling
sahih, tapi dari catatannya warga di pelbagai belahan dunia rutin
mendengar suara infrasonik tersebut.
"Kira-kira 2 hingga 10 persen penduduk bumi mendengar nyanyian bumi ini," tuturnya.
Ilmuwan sejak lama sudah mencatat fenomena bumi bernyanyi. Ada teori
bila suara langit makin sering terdengar, artinya ada gerakan aktif di
inti bumi. Potensi kegiatan vulkanik maupun tektonik semakin besar.
Di blog maupun forum diskusi online, muncul beberapa teori. Di
antaranya suara hasil penggalian bawah tanah, tekanan pipa gas, hingga
gempa bumi.
Aaron Taylor, warga Kota Montana, AS, ikut mengunggah rekaman
pengalamannya mendengar suara langit pada 18 Februari 2012. Dia mengaku
terkejut karena suara yang dia dengar mirip cerita Kitab Injil tentang
terompet Sangkakala, penanda akhir zaman. Deskripsi kiamat melibatkan
alunan terompet dari langit juga diimani umat Muslim dan Yahudi.
"Walau kita berusaha mencari jawaban logis (suara-suara itu), gagasan
bahwa ini tanda akhir zaman bermunculan di kepala saya. Bagaimana bila
suara ini termasuk nubuat tersebut," kata Taylor.
Sebelumnya diberitakan, manusia di pelbagai belahan dunia ramai-ramai
mengunggah video pengalaman mereka mendengar suara aneh dari langit.
Video paling lama dalam catatan Youtube diunggah pada 2011 dari Kota
Homel, Belarusia. Sumber http://www.merdeka.com




0 Comments:
Posting Komentar