infokerinci.co.vu, SUNGAIPENUH - Warga Hamparan Rawang Senin (18/5) dikejutkan dengan
puluhan selebaran gelap. Selebaran gelap sebanyak 4 lembar kertas HVS
itu berisi ajakan untuk tidak memilih calon Walikota Sungaipenuh
incumbent, Asafri Jaya Bakri (AJB).
Pantauan metrosakti.com, dalam 4 lembar selebaran itu, pelaku memberikan tema untuk masing-masing lembaran. Lembar pertama dengan tema Nasib Anak Rawang, lembar kedua berjudul Kejujuran Air Mata, lembar ketiga Inul Mau Bergoyang, dan lembar terakhir berjudul Kanyahoo Batuah.
Terkait selebaran gelap itu, Aspar Nasir, Ketua Tim Center Pemenangan AJB, diminta tanggapannnya, mengaku belum mendapatkan informasi terkait selebaran gelap yang ditujukan ke AJB. Meski benar ada selebaran itu, kata Aspar Nasir, pihaknya tidak akan menanggapi serius selagi belum ada orang yang bertanggung jawab dengan tulisan tersebut.
"Untuk apa ditanggapi, kalau tidak ada pelaku yang mau bertanggung jawab apa-apa yang disampaikan. Namanya saja selebaran gelap, itu palingan mereka yang sakit hati," jawab Aspar.
Menurutnya, black campaign yang diarahkan ke calon incumbent hingga saat ini tidak mempengaruhi popularitas calon.
"Kami sampai sekarang terus mendapatkan dukungan dari masyarakat, ini menandakan tidak ada pengaruh dengan isu-isu yang tidak bertanggungawab tersebut," tuturnya. (Metrosakti)
Pantauan metrosakti.com, dalam 4 lembar selebaran itu, pelaku memberikan tema untuk masing-masing lembaran. Lembar pertama dengan tema Nasib Anak Rawang, lembar kedua berjudul Kejujuran Air Mata, lembar ketiga Inul Mau Bergoyang, dan lembar terakhir berjudul Kanyahoo Batuah.
Terkait selebaran gelap itu, Aspar Nasir, Ketua Tim Center Pemenangan AJB, diminta tanggapannnya, mengaku belum mendapatkan informasi terkait selebaran gelap yang ditujukan ke AJB. Meski benar ada selebaran itu, kata Aspar Nasir, pihaknya tidak akan menanggapi serius selagi belum ada orang yang bertanggung jawab dengan tulisan tersebut.
"Untuk apa ditanggapi, kalau tidak ada pelaku yang mau bertanggung jawab apa-apa yang disampaikan. Namanya saja selebaran gelap, itu palingan mereka yang sakit hati," jawab Aspar.
Menurutnya, black campaign yang diarahkan ke calon incumbent hingga saat ini tidak mempengaruhi popularitas calon.
"Kami sampai sekarang terus mendapatkan dukungan dari masyarakat, ini menandakan tidak ada pengaruh dengan isu-isu yang tidak bertanggungawab tersebut," tuturnya. (Metrosakti)
Salah satu pembuktian yang dikemukakan Tim Bennet Bronson adalah tentang manusia "Kecik Wok Gedang Wok".
Ia merupakan suku pertama yang telah mendiami dataran tinggi kerinci
lebih dari 10.000 tahun yang lalu. Belum mempunyai nama secara imdividu
sampai masuknya suku Proto-Melayu.
Sedangkan suku Indian Inka
di Amerika yang sebelumnya dianggap sebagai salah satu suku dan ras
tertua di dunia diketahui pada zaman yang sama sudah memiliki nama
seperti, Big Buffalo (Kerbau Besar). Little Fire (Api Kecil) dan yang
lainya.
Mengutip
hasil penelitian Kern (1889) dan Sarasin (1982) yang menyatakan pada
tahun 4.000 SM terjadi pemindahan Proto-Melayu (Rumpun Polinesia) dari
Alam Melayu ke pulau-pulau di Lautan Teduh sebelah timur dan pulau-pulau di Lautan Hindia sebelah barat.
Maka
saat itulah terjadi perpindahan etnis ini dari satu tempat ke tempat
lain pada Alam Melayu seperti perpindahan Proto Malaiers (Melayu Tua) ke
Alam Kerinci.
Menurut
Kern, Alam Kerinci pada saat itu telah didiami oleh manusia dan
penduduk pribumi kerinci inilah yang disebut sebagai "Kecik Wok Gedang
Wok".
Kelompok Proto-Melayu yang lebih dominan dari suku "Kecik Wok Gedang Wok"
menyebabkan suku asli tersebut secara perlahan-lahan lenyap dengan
adanya pencampuran darah antara suku pribumi dengan suku pendatang.
Kelompok inilah yang selanjutnya berkembang dan menajdi nenek moyang
orang kerinci modern huingga ke generasi sekarang.
Hal
lain yang seing dijadikan sampel penelitian oleh para peneliti adalah
keragaman bahasa dan dialek di Kerinci. Dengan bahasa yang sangat
beragam, sekitar 135 buah dialek yang dipakai hanya disepanjang lembah
memperumit peneltian etnografi.
Menurut
beberapa penelitian yang telah dilakukan menyebutkan bahwa Orang
Kerinci termasuk kelompok suku bangsa asli yang pertama di Sumatera.
Kelompok suku asli yang kemudian dikenal dengan nama "Kecik Wok Gedang
Wok" yang diduga telah berada di Alam Kerinci sejak 10.000 tahun yang
lalu.
Para ahli peneliti belum bisa memastikan termasuk kedalam kelompok ras mana sebenarnya "Kecik Wok Gedang Wok"
karena mereka telah menayatu dalam percampuran darah dengan penduduk
pendatang yaitu Proto-Melayu. Sehingga sisa dari kelompok suku "Kecik
Wok Gedang Wok" ini sulit untuk ditemukan lagi.
Sumber: Antara
Salah satu pembuktian yang dikemukakan Tim Bennet Bronson adalah tentang manusia "Kecik Wok Gedang Wok".
Ia merupakan suku pertama yang telah mendiami dataran tinggi kerinci
lebih dari 10.000 tahun yang lalu. Belum mempunyai nama secara imdividu
sampai masuknya suku Proto-Melayu.
Sedangkan suku Indian Inka
di Amerika yang sebelumnya dianggap sebagai salah satu suku dan ras
tertua di dunia diketahui pada zaman yang sama sudah memiliki nama
seperti, Big Buffalo (Kerbau Besar). Little Fire (Api Kecil) dan yang
lainya.
Mengutip
hasil penelitian Kern (1889) dan Sarasin (1982) yang menyatakan pada
tahun 4.000 SM terjadi pemindahan Proto-Melayu (Rumpun Polinesia) dari
Alam Melayu ke pulau-pulau di Lautan Teduh sebelah timur dan pulau-pulau di Lautan Hindia sebelah barat.
Maka
saat itulah terjadi perpindahan etnis ini dari satu tempat ke tempat
lain pada Alam Melayu seperti perpindahan Proto Malaiers (Melayu Tua) ke
Alam Kerinci.
Menurut
Kern, Alam Kerinci pada saat itu telah didiami oleh manusia dan
penduduk pribumi kerinci inilah yang disebut sebagai "Kecik Wok Gedang
Wok".
Kelompok Proto-Melayu yang lebih dominan dari suku "Kecik Wok Gedang Wok"
menyebabkan suku asli tersebut secara perlahan-lahan lenyap dengan
adanya pencampuran darah antara suku pribumi dengan suku pendatang.
Kelompok inilah yang selanjutnya berkembang dan menajdi nenek moyang
orang kerinci modern huingga ke generasi sekarang.
Hal
lain yang seing dijadikan sampel penelitian oleh para peneliti adalah
keragaman bahasa dan dialek di Kerinci. Dengan bahasa yang sangat
beragam, sekitar 135 buah dialek yang dipakai hanya disepanjang lembah
memperumit peneltian etnografi.
Menurut
beberapa penelitian yang telah dilakukan menyebutkan bahwa Orang
Kerinci termasuk kelompok suku bangsa asli yang pertama di Sumatera.
Kelompok suku asli yang kemudian dikenal dengan nama "Kecik Wok Gedang
Wok" yang diduga telah berada di Alam Kerinci sejak 10.000 tahun yang
lalu.
Para ahli peneliti belum bisa memastikan termasuk kedalam kelompok ras mana sebenarnya "Kecik Wok Gedang Wok"
karena mereka telah menayatu dalam percampuran darah dengan penduduk
pendatang yaitu Proto-Melayu. Sehingga sisa dari kelompok suku "Kecik
Wok Gedang Wok" ini sulit untuk ditemukan lagi.
Sumber: Antara
Hal
lain yang seing dijadikan sampel penelitian oleh para peneliti adalah
keragaman bahasa dan dialek di Kerinci. Dengan bahasa yang sangat
beragam, sekitar 135 buah dialek yang dipakai hanya disepanjang lembah
memperumit peneltian etnografi.
Menurut
beberapa penelitian yang telah dilakukan menyebutkan bahwa Orang
Kerinci termasuk kelompok suku bangsa asli yang pertama di Sumatera.
Kelompok suku asli yang kemudian dikenal dengan nama "Kecik Wok Gedang
Wok" yang diduga telah berada di Alam Kerinci sejak 10.000 tahun yang
lalu.
Para ahli peneliti belum bisa memastikan termasuk kedalam kelompok ras mana sebenarnya "Kecik Wok Gedang Wok"
karena mereka telah menayatu dalam percampuran darah dengan penduduk
pendatang yaitu Proto-Melayu. Sehingga sisa dari kelompok suku "Kecik
Wok Gedang Wok" ini sulit untuk ditemukan lagi.
Sumber: Antara
- See more at: http://mahessa83.blogspot.com/2015/05/suku-kerinci-suku-tertua-di-dunia.html#sthash.wgbmG0Lm.dpuf
Suku Kerinci adalah sebauh suku yang mendiami wilayah Kabupaten Kerinci, Jambi. Nama Kerinci berasal dar bahasa Tamil yaitu
nama bunga Kurinji (Strobilanthes Kunthiana) yang tumbuh di India
Selatan pada ketinggian diatas 1800 yang mekarnya sekali selama dua
belas tahun. Karena itu Kurinji juga merujuk pada kawasan pegunungan
dapat dipastikan bahwa hubungan Kerinci dengan India telah terjalin
sejak lama dan nama Kerinci sendiri diberikan pedagan India Tamil.
Peneliti dari Amerika Serikat Dr Bennet Bronson bersama dengan Tim Lembaga Purbakala dan Peninggalan Nasional Jakarta pada tahun 1973 mengatakan,"Suku
Kerinci yang mendiami dataran tinggi bukit barisan di sekitar Gunung
Kerinci lebih tua dari suku Inka, Indian di Amerika bahkan jauh lebih
tua dari Proto-Melayu."
Salah satu pembuktian yang dikemukakan Tim Bennet Bronson adalah tentang manusia "Kecik Wok Gedang Wok".
Ia merupakan suku pertama yang telah mendiami dataran tinggi kerinci
lebih dari 10.000 tahun yang lalu. Belum mempunyai nama secara imdividu
sampai masuknya suku Proto-Melayu.
Sedangkan suku Indian Inka
di Amerika yang sebelumnya dianggap sebagai salah satu suku dan ras
tertua di dunia diketahui pada zaman yang sama sudah memiliki nama
seperti, Big Buffalo (Kerbau Besar). Little Fire (Api Kecil) dan yang
lainya.
Mengutip
hasil penelitian Kern (1889) dan Sarasin (1982) yang menyatakan pada
tahun 4.000 SM terjadi pemindahan Proto-Melayu (Rumpun Polinesia) dari
Alam Melayu ke pulau-pulau di Lautan Teduh sebelah timur dan pulau-pulau di Lautan Hindia sebelah barat.
Maka
saat itulah terjadi perpindahan etnis ini dari satu tempat ke tempat
lain pada Alam Melayu seperti perpindahan Proto Malaiers (Melayu Tua) ke
Alam Kerinci.
Menurut
Kern, Alam Kerinci pada saat itu telah didiami oleh manusia dan
penduduk pribumi kerinci inilah yang disebut sebagai "Kecik Wok Gedang
Wok".
Kelompok Proto-Melayu yang lebih dominan dari suku "Kecik Wok Gedang Wok"
menyebabkan suku asli tersebut secara perlahan-lahan lenyap dengan
adanya pencampuran darah antara suku pribumi dengan suku pendatang.
Kelompok inilah yang selanjutnya berkembang dan menajdi nenek moyang
orang kerinci modern huingga ke generasi sekarang.
Hal
lain yang seing dijadikan sampel penelitian oleh para peneliti adalah
keragaman bahasa dan dialek di Kerinci. Dengan bahasa yang sangat
beragam, sekitar 135 buah dialek yang dipakai hanya disepanjang lembah
memperumit peneltian etnografi.
Menurut
beberapa penelitian yang telah dilakukan menyebutkan bahwa Orang
Kerinci termasuk kelompok suku bangsa asli yang pertama di Sumatera.
Kelompok suku asli yang kemudian dikenal dengan nama "Kecik Wok Gedang
Wok" yang diduga telah berada di Alam Kerinci sejak 10.000 tahun yang
lalu.
Para ahli peneliti belum bisa memastikan termasuk kedalam kelompok ras mana sebenarnya "Kecik Wok Gedang Wok"
karena mereka telah menayatu dalam percampuran darah dengan penduduk
pendatang yaitu Proto-Melayu. Sehingga sisa dari kelompok suku "Kecik
Wok Gedang Wok" ini sulit untuk ditemukan lagi.
Sumber: Antara
- See more at: http://mahessa83.blogspot.com/2015/05/suku-kerinci-suku-tertua-di-dunia.html#sthash.18leuwgQ.dpuf
Suku Kerinci adalah sebauh suku yang mendiami wilayah Kabupaten Kerinci, Jambi. Nama Kerinci berasal dar bahasa Tamil yaitu
nama bunga Kurinji (Strobilanthes Kunthiana) yang tumbuh di India
Selatan pada ketinggian diatas 1800 yang mekarnya sekali selama dua
belas tahun. Karena itu Kurinji juga merujuk pada kawasan pegunungan
dapat dipastikan bahwa hubungan Kerinci dengan India telah terjalin
sejak lama dan nama Kerinci sendiri diberikan pedagan India Tamil.
Peneliti dari Amerika Serikat Dr Bennet Bronson bersama dengan Tim Lembaga Purbakala dan Peninggalan Nasional Jakarta pada tahun 1973 mengatakan,"Suku
Kerinci yang mendiami dataran tinggi bukit barisan di sekitar Gunung
Kerinci lebih tua dari suku Inka, Indian di Amerika bahkan jauh lebih
tua dari Proto-Melayu."
Salah satu pembuktian yang dikemukakan Tim Bennet Bronson adalah tentang manusia "Kecik Wok Gedang Wok".
Ia merupakan suku pertama yang telah mendiami dataran tinggi kerinci
lebih dari 10.000 tahun yang lalu. Belum mempunyai nama secara imdividu
sampai masuknya suku Proto-Melayu.
Sedangkan suku Indian Inka
di Amerika yang sebelumnya dianggap sebagai salah satu suku dan ras
tertua di dunia diketahui pada zaman yang sama sudah memiliki nama
seperti, Big Buffalo (Kerbau Besar). Little Fire (Api Kecil) dan yang
lainya.
Mengutip
hasil penelitian Kern (1889) dan Sarasin (1982) yang menyatakan pada
tahun 4.000 SM terjadi pemindahan Proto-Melayu (Rumpun Polinesia) dari
Alam Melayu ke pulau-pulau di Lautan Teduh sebelah timur dan pulau-pulau di Lautan Hindia sebelah barat.
Maka
saat itulah terjadi perpindahan etnis ini dari satu tempat ke tempat
lain pada Alam Melayu seperti perpindahan Proto Malaiers (Melayu Tua) ke
Alam Kerinci.
Menurut
Kern, Alam Kerinci pada saat itu telah didiami oleh manusia dan
penduduk pribumi kerinci inilah yang disebut sebagai "Kecik Wok Gedang
Wok".
Kelompok Proto-Melayu yang lebih dominan dari suku "Kecik Wok Gedang Wok"
menyebabkan suku asli tersebut secara perlahan-lahan lenyap dengan
adanya pencampuran darah antara suku pribumi dengan suku pendatang.
Kelompok inilah yang selanjutnya berkembang dan menajdi nenek moyang
orang kerinci modern huingga ke generasi sekarang.
Hal
lain yang seing dijadikan sampel penelitian oleh para peneliti adalah
keragaman bahasa dan dialek di Kerinci. Dengan bahasa yang sangat
beragam, sekitar 135 buah dialek yang dipakai hanya disepanjang lembah
memperumit peneltian etnografi.
Menurut
beberapa penelitian yang telah dilakukan menyebutkan bahwa Orang
Kerinci termasuk kelompok suku bangsa asli yang pertama di Sumatera.
Kelompok suku asli yang kemudian dikenal dengan nama "Kecik Wok Gedang
Wok" yang diduga telah berada di Alam Kerinci sejak 10.000 tahun yang
lalu.
Para ahli peneliti belum bisa memastikan termasuk kedalam kelompok ras mana sebenarnya "Kecik Wok Gedang Wok"
karena mereka telah menayatu dalam percampuran darah dengan penduduk
pendatang yaitu Proto-Melayu. Sehingga sisa dari kelompok suku "Kecik
Wok Gedang Wok" ini sulit untuk ditemukan lagi.
Sumber: Antara
- See more at: http://mahessa83.blogspot.com/2015/05/suku-kerinci-suku-tertua-di-dunia.html#sthash.18leuwgQ.dpuf

0 Comments:
Posting Komentar